Komunitas Literasi Gelar Diskusi “Anak Muda Membaca Bangsa”

24 Februari 2017 9:42
Diskusi bertema “Anak Muda Membaca Bangsa” yang digelar oleh Komunitas Literasi bekerjasama dengan Lembaga penerbitan Kampus Unhas Identitas, di Aula Prof. Matuallada, Fakultas Ilmu Budaya, Unhas, Kamis 23 Februari 2017.(foto:ist)

MAKASSAR,INIKATA.com – Banyak perubahan besar dalam generasi milinea saat ini menyangkut perilaku ‘budaya’ anak mudanya.

Menghadapi bonus demografi, anak muda dari berbagai latar belakang memiliki ragam persoalan sosial yang berbeda-beda sehingga menciptakan apa yang disebut “keragaman temporal”

Situasi sosial dengan fakta Indonesia memiliki nyaris 90 juta pengguna internet aktif.

Namun, meningkatnya jumlah pemakaian teknologi tidak melulu berkorelasi positif dengan kapasitas manusia menakar informasi seperti hoax.

Belum lagi rata-rata kemampuan membaca orang Indonesia rendah. Menurut UNESCO, hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang memiliki minat membaca, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara dalam hal minat baca. Hal ini mengharuskan strategi baru kebudayaan.

Fenomena anak muda ini kupas dalam sebuah kegiatan diskusi bertema “Anak Muda Membaca Bangsa” yang digelar oleh Komunitas Literasi bekerjasama dengan Lembaga penerbitan Kampus Unhas Identitas, di Aula Prof. Matuallada, Fakultas Ilmu Budaya, Unhas, Kamis 23 Februari 2017.

“Pemilihan tema didasari atas pengertian bahwa literasi adalah aksi saling “membaca kebudayaan”.

“Kebudayaan dalam hal ini dipahami tidak hanya sebagai seperangkat nilai, melainkan juga proses hidup yang meliputi aktivitas keseharian hingga masalah kebangsaan, yang tidak bisa dilepaskan dari dimensi ekonomi, sosial hingga politiknya,” jelas Irmawati Puan Mawar, selaku penanggung jawab acara.

Menurut Irma, selaku koordinator Komunitas Literasi yang banyak bergiat di kegiatan literasi ini, diskusi yang dirangkaikan peluncuran buku kumpulan essai “Telinga Palsu” itu bertujuan memperkuat literasi  dan mengeksplorasi kegelisahan kultural anak muda.

“Serta mendorong lahirnya penulis-penulis muda baru dari kota ini,” ungkap Irma yang diakrab disapa Ime.

Narasumber dihadirkan seperti, Andi Faisal, Dosen di Universitas Hasanuddin membahas dan mengkategorisasi kegelisahan kultural penulis-penulis muda dalam buku Literasi Telinga Palsu sebagai pintu masuk.

Lalu ada  Wahyuddin Halim , Dosen di Universitas Islam Negeri Alauddin yang mengeksplorasi persoalan intoleransi yang kini marak terjadi, berikut strategi pendidikan yang inklusif bagi anak muda. Juga ada  Harry Isra, salah satu penulis muda di Buku Telinga Palsu membahas berbagai kemungkinan masalah yang akan di hadapi anak muda

Indonesia dalam menyongsong bonus demografi. Serta  Mardiyah Chamim, Direktur Tempo Institute membahas kebangkitan gerakan literasi dan strategi kepedulian yang tepat untuk menangani kegelisahan kultural anak muda.(***)

Comments